Themes

Myspace Glitter Text - http://www.glittergraphictext.com

Sunday, 10 February 2008

Warta Sepekan - 10 Februari

Ibadah Yang Sejati
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra


Saudara, apabila kita membaca dalam Kitab Mazmur 50, maka kita akan temukan sebuah judul daripada perikopnya yaitu ”Ibadah Yang Sejati”. Dan inilah yang akan menjadi pokok pembahasan kita kali ini dimana kita akan belajar untuk memahami mengenai ibadah yang sejati untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah yang sejati bukanlah sekedar kita beribadah tiap minggu dengan rajin. Memang hal itu tidak salah, tetapi yang terutama adalah bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa Yesus hidup dalam kehidupan kita melalui tingkah laku dan gaya hidup kita. Dan apabila kita telaah lebih dalam lagi, maka kita akan temukan suatu dampak yang luar biasa di dalam ibadah yang sejati; diantaranya adalah adanya suatu jaminan, baik itu perlindungan, ketentraman, kedamaian dan berkat yang mengalir sampai pada anak cucu, seperti yang tertulis dalam Mazmur 89:21-30. Apa yang dijanjikan oleh Tuhan ini sungguh luar biasa, bahkan janji ini disampaikan kepada Abraham dengan sumpah, dan janji ini berlaku selama Abraham dan keturunannya dapat memahami mengenai ibadah yang benar serta menjadi gaya hidupnya.
Mengenai ibadah yang sejati ini, kita akan belajar dari kehidupan Daud. Dan sebelum kita meneliti lebih jauh lagi mengenai kisah Daud saat memindahkan Tabut Perjanjian yang berkaitan dengan ibadah yang sejati, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui sejarah mengenai Tabut Perjanjian pada jaman Musa. Dimana Allah telah memerintahkan untuk membuat Tabernakel. Dan Tabut Perjanjian itu harus diletakkan di ruang maha suci. Selain itu, yang bisa masuk ke ruang maha suci dan mendekat pada Tabut itu adalah orang Lewi; sebab hanya orang Lewi yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan untuk dapat mendekat pada Tabut itu. Dan di Tabut Perjanjian itulah Tuhan hadir. Jadi, perlakuan terhadap Tabut Perjanjian ini tidak boleh sembarangan. Tetapi kalau kita melihat kisah tentang Daud saat mengangkut Tabut Perjanjian, maka kita akan menemukan keteledoran daripada Daud saat memperlakukan Tabut Perjanjian. Dimana Tabut Perjanjian yang seharusnya dipikul, dan yang memikul hanyalah orang Lewi dengan menggunakan baju Efod, tetapi saat itu Tabut Perjanjian diangkut dengan kereta dan yang membawa bukanlah orang Lewi. Selain itu, pada waktu mengangkut Tabut itu, Daud tidak memakai pakaian seorang imam, tetapi pakaian perang. Dan juga saat membawa Tabut Perjanjian tidak ada korban yang dipersembahkan untuk Tuhan.
Dan tatkala Daud membawa Tabut itu, ia mengajak tiga puluh ribu orang pilihan belum termasuk rakyatnya. Jadi kira-kira jumlah seluruhnya, termasuk rakyatnya adalah tujuh puluh ribu orang (II Samuel 6:1-2). Memang, Daud mempunyai maksud yang baik yaitu ia rindu membawa orang pilihan dan rakyatnya untuk dapat bergaul dengan Tuhan, dengan anggapan bahwa hal itu merupakan puncak kesuksesan. Demikian halnya yang terjadi pada akhir-akhir ini, dimana orang beranggapan bahwa kehadiran Tuhan dan suksesnya sebuah ibadah dilihat dari banyaknya jemaat yang beribadah atau meriahnya suasana ibadah, padahal tidak demikian. Kehadiran Allah itu akan nyata ditengah-tengah kita apabila kita menghormati akan keberadaan Allah. Akibat keteledoran raja Daud, maka menyebabkan Allah murka terhadap Uza yang berusaha menahan Tabut itu supaya tidak jatuh karena lembu yang menarik kereta terpelecok, dan akhirnya Uza mati. Setelah Uza mati, maka Daud menjadi kecewa karena Tuhan telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" (II Samuel 6:3-5). Setelah peristiwa itu, maka Daud menjadi takut dan tidak membawa Tabut itu ke Yerusalem melainkan ia membawa ke rumah Obed Edom orang Gat. Setelah Tabut itu ditaruh di rumah Obed Edom selama tiga bulan, maka selama itulah Obed Edom beserta seisi rumahnya diberkati oleh Tuhan (II Samuel 6:11). Mungkin timbul pertanyaan : “mengapa Obed Edom diberkati ketika Tabut itu ada di rumahnya dan siapakah Obed Edom itu?” Hal yang pertama untuk diketahui yaitu bahwa Obed Edom adalah orang Lewi (orang yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk dapat mendekat dengan Tabut Tuhan) (I Tawarikh 15:17-18), dan yang kedua adalah Obed Edom tahu cara memperlakukan Tabut Tuhan (Kehadiran Tuhan). Obed Edom senantiasa memberi korban persembahan bagi Tuhan dan saat ia memberi persembahan ia menggunakan baju Efod (jubah seorang imam). Ketika peristiwa ini sedang berlangsung maka diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita (II Samuel 6:12). Dan ketika Daud membawa Tabut itu, ia belajar dan melakukan seperti yang Obed Edom lakukan. Inilah yang dilakukan oleh Daud yaitu ketika pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan (II Samuel 6:13-14). Akhir dari kisah ini adalah Daud dan seluruh rakyatnya diberkati Tuhan secara luar biasa, seperti yang tertulis dalam II Samuel 6:18 : “Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam.”
Saudara, setelah kita membaca pembahasan di atas, mungkin timbul pertanyaan : “apakah kisah daripada Daud ini masih relevan dengan jaman sekarang ?Bukankah yang berhak mendekat hadirat Allah adalah orang Lewi, sedangkan kita tidak ?” Memang peristiwa ini terjadi pada jaman Hukum Taurat, tetapi perlu kita ingat bahwa oleh korban Kristus maka kita mendapat kemurahan untuk dapat masuk ke dalam tempat yang kudus dimana Allah berada, seperti yang tertulis dalam Ibrani 10:19-23 “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.”. Selain kita dapat masuk dalam hadiratNya, kita juga mendapatkan predikat sebagai seorang imam dan raja walaupun yang dahulunya kita bukan umat Allah dan tidak berhak mendapat kemurahan dari Tuhan (I Petrus 2:9-10).
Oleh sebab itu, kita yang sudah dipanggil dan dipilih oleh Tuhan, marilah kita senantiasa mengenakan jubah Efod (jubah kekudusan) dalam hidup kita dan senantiasa memberikan korban syukur sebagai tanda penghormatan kita terhadap kehadiran Tuhan dalam hidup kita, karena ini merupakan ibadah yang sejati. Dan kita tahu bahwa alamat Tuhan ada dalam diri kita, maka jangan sekali-kali mencemari tubuh ini dengan berbagai macam dosa dan kenajisan, supaya bukan murka Tuhan yang datang tetapi berkatNya yang melimpah. Amin

Sunday, 3 February 2008

Warta Sepekan - 03 Februari

Hidup Baru Yang Terpelihara
Pdt. Alex Tanuseputra

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.”
I Petrus 1:3-5

Surat Petrus yang pertama ini ditujukan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus (termasuk kita), dan bukan terhadap orang yang belum percaya. Ia mengingatkan kepada semua orang percaya bahwa oleh karena kasih dan rahmatNya kita mengalami mujizat yang luar biasa yaitu kelahiran baru. Dan mengapa kelahiran baru disebut sebagai mujizat yang luar biasa ? sebab kelahiran baru merupakan syarat utama untuk dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Hal ini juga disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada pemimpin agama Yahudi yaitu Nikodemus, sebagai peringatan bahwa setiap orang yang mau masuk kedalam kerajaan Allah harus mengalami kelahiran baru (Yohanes 3:3-7). Salah satu contoh murid Tuhan yang mengalami kelahiran baru adalah Simon, dimana ketika ia mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, maka Yesus berkata : “berbahagialah engkau Simon, karena bukan engkau yang menyatakan itu tetapi oleh karena kemurahan Allah yang membuat engkau menyatakan demikian. Dan sekarang engkau bukan lagi Simon tetapi Petrus.” Dulu Simon adalah manusia alamiah (manusia yang penuh dengan kelemahan), tetapi setelah ia mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia menjadi manusia baru dan namanya menjadi Simon Petrus.
Istilah kelahiran baru ini tidak hanya terjadi pada jaman perjanjian baru saja, tetapi pada jaman perjanjian lamapun, hal ini juga terjadi. Tatkala Tuhan memanggil Abraham untuk menjadi bapa segala bangsa, maka terlebih dahulu telah terjadi kelahiran baru (perubahan karena menerima panggilan Tuhan). Dimana yang dahulunya Abram menjadi Abraham, Sarai menjad Sara, kemudian Yakub menjadi Israel. Dan bukan berarti perubahan nama yang menentukan kita menjadi manusia baru, tetapi karena kita meresponi panggilan Tuhan untuk menerima kemurahanNyalah yang membuat kita mengalami kelahiran baru.
Kemurahan Allah dalam perjanjian lama hanya bersifat perorangan, tetapi pada jaman perjanjian baru, kemurahan Allah diberikan kepada seluruh umat manusia yang menerima serta percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan raja; seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 3:16 “ . . . . . . . , supaya barangsiapa percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kata “barangsiapa” menunjuk kepada setiap orang. Istilah serta pengertian lahir baru tidak ada di agama manapun, walaupun segala sesuatu yang diajarkan agama tersebut adalah baik. Sebab istilah serta pengertian kelahiran baru ini hanya ada ketika seseorang menjadi percaya di dalam nama Tuhan Yesus, sehingga orang tersebut mendapatkan predikat sebagai manusia rohani. Manusia alamiah dan manusia rohani ini tidak terpisah karena kita masih tinggal dalam dunia ini.
Lalu, bagaimana dua pribadi/dimensi dipelihara Tuhan ? Kedua dimensi ini tetap dipelihara Tuhan, selama kita tetap melekat pada firmanNya. Dan terpeliharanya manusia alamiah kita akan dipengaruhi manusia rohani kita, karena bukan manusia alami kita yang dapat merubah manusia rohani kita. Oleh karena itu manusia rohani kita harus selalu mendapatkan makanan dan minuman, supaya manusia rohani kita tetap hidup. Dan bagaimanakah manusia rohani kita mendapatkan makanan dan minuman ?. manusia rohani kita akan mendapatkan makanan apabila kita senantiasa datang kepada Tuhan Yesus (dalam pengertian membangun hubungan yang intim dengan Tuhan) Sebab Tuhan Yesus berkata : "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; . . .” (Yohanes 7:37-39). Dan di dalam Injil Yohanes 6:35&37 juga dikatakan : "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Hal ini menunjukkan bahwa manusia rohani kita benar-benar terpelihara oleh kasih dan rahmatNya, supaya manusia rohani kita tetap hidup.
Dan perlu kita ketahui pula bahwa yang tinggal dalam kerajaan sorga adalah manusia rohani kita dan bukan manusia alamiah; seperti yang terulis dalam I Korintus 15:50 “Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. Oleh sebab itu, marilah kita memberikan manusia rohani kita untuk dipelihara oleh Tuhan, karena apabila manusia rohani kita terpelihara maka manusia alamiah kita juga turut terpelihara. Kita lihat contoh kisah daripada Obed-Edom; ketika ia menghormati lawatan Tuhan, dengan hadirnya Tabut Perjanjian di rumahnya selama tiga bulan, maka selama itu pula Obed-Edom beserta seluruh isi rumahnya diberkati oleh Tuhan. Demikian dengan kehidupan kita; selama kita menghormati dan dipenuhi oleh Roh Kudus maka segala sesuatu yang kita kerjakan pasti berhasil. Hadirnya Roh Kudus itu sama dengan hadirnya Tabut Perjanjian yang terjadi di jaman perjanjian lama. Ketika Musa bersama tiga juta orang, dengan memikul Tabut Perjanjian maka segala rintangan yang mereka hadapi dapat mereka selesaikan bahkan saat mereka menghadapi peperangan, mereka memperoleh kemenangan yang luar biasa. Hal ini membuktikan bahwa pemeliharaan Tuhan itu nyata ketika kita berada dalam hadirat Tuhan. Oleh sebab itu kita patut berbangga apabila Roh Kudus ada dalam diri kita, karena dengan keberadaannya maka kita juga akan mendapatkan pelayanan daripada malaikat, seperti yang tertulis dalam Ibrani 1:14 “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?”.
Karena demikian besar kasih dan rahmatNya untuk memelihara kita, maka kita harus tetap menjaga kerohanian kita untuk mendapatkan pemeliharaan dari Tuhan; tetapi bukan berarti kita mengabaikan manusia alamiah kita. Karena kedua-keduanya harus tetap kita jaga supaya segala anugerahNya bagi kita tidak sia-sia. Amin.

Sunday, 27 January 2008

Warta Sepekan

Rahasia Menantikan Tuhan
Habakuk 2:1-5

Pada saat bangsa Israel berada dalam kesesakan, Habakuk selaku seorang nabi telah menjadi perantara antara Tuhan dengan bangsa Israel, dan ia berkata : ”Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, akau mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankanNya kepadaku, dan apa yang akan dijawabNya atas pengaduanku.” Ia senantiasa menantikan firman Tuhan dan jawaban Tuhan untuk dapat disampaikan kepada bangsa Israel agar hati bangsa Israel tetap kuat dalam menghadapi pergumulan yang sedang terjadi.
Saudara, arti dari kalimat “berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara” adalah ia membawa segala pergumulan dan menantikan Tuhan dalam doa. Ia berusaha mencari wajah Tuhan dan kehendakNya lewat doa. Habakuk tidak jemu-jemu dalam menantikan jawaban Tuhan sebab ia telah menerima segala janji Tuhan, dan ia yakin apabila Tuhan berjanji pasti akan digenapi, seperti yang tertulis dalam II Petrus 3:9, ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
Lalu, bagaimana dengan kita, apakah kita saat ini sedang menantikan jawaban dari Tuhan atas pergumulan kita ? Jika ya, marilah kita naik ke “menara doa” yaitu masuk dalam doa, sebab ketika kita menantikan Tuhan dalam doa,maka kita akan mendapatkan tiga hal diantaranya :

1.Revelation (Wahyu)
Apabila kita membaca dalam I Korintus 12:1-11, maka kita akan temukan salah satu dari ketiga hal tersebut di atas. Pada ayat 3 dijelaskan bahwa seseorang dapat menyebut bahwa Yesus adalah Tuhan karena di dalam orang tersebut ada Roh Allah, dan orang yang mendapat karunia bernubuat atau wahyu itupun oleh karena karunia Roh. Jadi betapa pentingnya seseorang mendapatkan wahyu dari Tuhan, karena wahyu merupakan firman yang langsung disampaikan melalui Roh Kudus. Untuk itu apabila kita saat ini sedang dalam pergumulan, maka janganlah kita semakin menjauh dari Tuhan dan mulai mengandalkan kekuatan kita sendiri, sebab firman Tuhan menasehatkan, ”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5). Tetapi justru kita semakin dekat dengan Tuhan untuk mendapatkan wahyu dari Tuhan. Dan orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru. Memang, sementara kita menunggu sangat dibutuhkan kesabaran. Sebab tanpa kesabaran seseorang tidak akan mendapatkan apa yang dirindukannya.

2. Wisdom (Hikmat)
Pada saat kita berdoa kepada Tuhan, maka kita akan mendapatkan hikmat. Dan hikmat yang kita dapatkan bukanlah hikmat yang dari dunia melainkan hikmat dari Tuhan, seperti yang tertulis dalam I Korintus 2:6-9, ”Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. . . . . . ”
Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah menerima hikmat dari Tuhan. Saudara, ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan maka di dalam diri kita ada Roh Allah. Dan apabila Roh Allah ada di dalam diri kita, maka kita akan memiliki pikiran Kristus, selain memiliki pikiran diri sendiri. Jikalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari maka kita akan melihat bahwa pada saat manusia mengajar manusia, maka itu pikiran manusia, sedangkan apabila Roh Allah ada di dalam hamba Tuhan, maka yang diajarkan oleh hamba Tuhan itu adalah pikiran Allah. Selanjutnya, apabila kita fokus kepada Tuhan dan mempersilahkan Roh Kudus berkuasa dalam kehidupan kita maka Roh Kudus itu akan memunculkan pikiran Allah, sehingga kita semua mendapat pikiran Allah / Wisdom (Hikmat). Itulah yang sulit diterima oleh orang dunia, sebab mereka tidak menerima Roh Allah. Oleh sebab itu, kita perlu banyak berdoa supaya kita semakin sensitif terhadap Roh Allah yang senantiasa memberikan input mengenai pikiran Allah. Dan tentunya pikiran Allah itu tidak dapat diterima dengan akal manusia, melainkan dapat diterima dengan iman.

3. Power (Kuasa)
Roh Allah itu bisa memunculkan kuasa dalam kehidupan kita, sehingga apa yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah dilihat oleh mata maupun timbul dalam hati kita akan disediakan bagi mereka yang mengasihi Dia. Pikiran Allah menciptakan iman yang dapat mengadakan mujizat.
Pada permulaan tahun 2008, saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra) berdoa dan Tuhan memunculkan dalam pikiran saya bahwa waktu ini adalah harvest time (masa penuaian). Hal ini dapat dilihat dari siklus yang telah kita alami mulai tahun 1977,1987, 1997 dan 2007. Dimana melalui siklus ini kita mendapatkan suatu pemahaman mengenai hukum tabur tuai. Dari sekian lama perjalanan dalam melayani Tuhan, Dia telah menunjukkan kuasaNya yang luar biasa yaitu kuasa yang tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan perlu kita perhatikan bahwa kita tidak dapat memaksakan masa penuaian itu, sebab tuaian kita tergantung dari apa yang kita tabur. Firman Tuhan itu datang dalam kehidupan kita namun belum nyata, tetapi Tuhan berjanji bahwa suatu hari pasti akan digenapi. Pada waktu kita menunggu jawaban dari Tuhan, waktunya tidak akan berlambat-lambat seperti yang dialami oleh Habakuk ketika menantikan jawaban Tuhan. Pada waktu firman Tuhan memerintahkan saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra) untuk mengambil proyek Menara Jakarta itu merupakan nubuatan, dan didalamnya ada hikmat dan kuasa yang bekerja dalam kehidupan saya. Saya menunggu lama terwujudnya Menara Jakarta. Firman Tuhan akan dinyatakan meskipun hal itu mustahil untuk dikerjakan manusia. Pada waktu menunggu, saya senantiasa memperkatakan kata-kata iman. Memang orang yang tidak tahu telah menilai bahwa saya sombong. Dan itu merupakan ujian bagi saya. Sebab saya yakin bahwa orang benar akan melihat mujizat Tuhan. Saya harus hati-hati terhadap perkataan maupun tingkah laku saya. Demikian seperti yang saya alami dalam membangun Bethany Nginden, saya harus menantikan selama 13 tahun dengan berbagai pergumulan yang harus saya hadapi. Tetapi itu semua tidak menyurutkan semangat saya dalam melaksanakan perintah Tuhan, sebab saya yakin bahwa bersama Tuhan akan melakukan perkara-perkara yang besar. Memang kata-kata iman dengan kesombongan itu memang tipis. Tetapi kalau kita benar-benar berlaku tulus di hadapan Tuhan maka kita akan melihat kuasa Tuhan dinyatakan. Amin.